welcome

Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

La Upe


La Upe adalah seorang anak laki-laki yatim dan miskin yang tinggal di sebuah kampung di daerah Selawesi Selatan. Kata la upe berasal dari bahasa Bugis yang terdiri dari suku kata, yaitu: la berarti dia laki-laki, dan upe berarti beruntung. Jadi, kata la upe berarti laki-laki yang beruntung. Berkat kesabarannya dalam menghadapi segala cobaan dan siksaan, ia mendapat pertolongan dari Tuhan. Siksaan apa yang dialami La Upe, dan pertolongan apa yang diberikan kepadanya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita La Upe berikut ini.


Nenek Pakande


Nenek Pakande adalah seorang nenek siluman yang sering menjadi momok bagi masyarakat Bugis di daerah Soppeng, Sulawesi Selatan. Nenek siluman itu adalah manusia kanibal yang sakti mandraguna. Ia sangat suka makan daging manusia, terutama daging anak-anak. Itulah sebabnya, masyarakat setempat memanggilnya Nenek Pakande. Dalam bahasa Bugis, kata pakande berasal dari kata pakkanre-kanre tau yang berarti suka makan daging manusia. Suatu ketika, seorang pemuda yang cerdik bernama La Beddu berupaya untuk mengusir Nenek Pakande karena kelakuannya telah meresahkan seluruh warga. Mampukah La Beddu mengusir Nenek Pakande dari negeri itu? Ikuti kisahnya dalam cerita Nenek Pakande berikut ini!


Selasa, 29 Mei 2012

Si Penakluk Rajawali


Si Penakluk rajawali adalah seorang pemuda yang tinggal di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, Indonesia. Pemuda tersebut dinikahkan dengan putri raja, karena berhasil memenangkan sayembara menaklukkan seekor rajawali raksasa. Dalam rangka apa raja negeri itu mengadakan sayembara? Lalu, bagaimana pemuda itu menaklukkan rajawali raksasa tersebut? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Si Penakluk Rajawali berikut ini.


Sepak Bola Binatang


Pada umumnya, pertandingan sepak bola dilakukan oleh manusia. Namun, apa jadinya jika yang bertanding sepak bola itu adalah binatang? Di daerah Sulawesi Selatan, Indonesia, ada sebuah cerita rakyat yang mengisahkan tentang pertandingan sepak bola antarbinatang. Bagaimana para binatang tersebut bermain bola? Binatang apa saja yang ikut bertanding dan siapakah yang keluar sebagai juara dalam pertandingan sepak bola tersebut?  Temukan jawabannya dalam cerita Sepak Bola Binatang berikut ini!

Ambo Upe Dan Burung Beo


Ambo Upe adalah seorang penggembala kerbau yang tinggal di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, Indonesia. Ambo upe adalah bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata, yaitu ambo yang berarti bapak, dan upe berarti untung atau beruntung. Ambo upe berarti bapak yang beruntung.[1] Pada suatu hari, Ambo Upe menggembalakan enam ekor kerbaunya di pinggir sebuah hutan lebat. Tanpa diduga, tiba-tiba muncul dua orang perampok dari dalam hutan dengan wajah seram. Kedua perampok itu kemudian menghampiri dan mengikat Ambo Upe pada sebuah pohon, lalu membawa pergi kerbau gembalaannya. Bagaimana nasib Ambo Upe selanjutnya dan keenam kerbaunya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Ambo Upe dan Burung Beo berikut ini!


Lamadukelleng


Lamadukelleng adalah seorang laki-laki yang hidup di sebuah negeri di daerah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia. Saat masih bayi, ia dibuang oleh bibinya ke Sungai Jeneberang. Mengapa Lamadukelleng dibuang ke sungai? Dapatkah ia bertemu kembali dengan kedua orangtuanya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Lamadukelleng berikut ini.


Minggu, 27 Mei 2012

I Laurang


Di kalangan masyarakat Bugis Sulawesi Selatan, Indonesia, beredar sebuah cerita rakyat tentang seorang pemuda bernama I Laurang. I laurang dalam bahasa Bugis terdiri dari tiga suku kata, yaitu I, la dan urang. I berarti si (menunjuk kepada seseorang), la berarti dia laki-laki, dan urang berarti udang. Jadi, I laurang berarti si laki-laki udang atau manusia udang. Dalam cerita itu, I Laurang dikisahkan menjadi rebutan tujuh orang putri raja. Mengapa pemuda itu dinamakan I Laurang dan menjadi rebutan para putri raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita I Laurang berikut ini.


Sawerigading


Sawerigading adalah Putra Raja Luwu Batara Lattu`, dari Kerajaan Luwu Purba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dalam bahasa setempat, sawerigading berasal dari dua kata, yaitu sawe yang berarti menetas (lahir), dan ri gading yang berarti di atas bambu betung. Jadi, sawarigading berarti keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung. Menurut cerita, ketika Bataraguru (kakek Sawerigading yang merupakan keturunan dewa) pertama kali diturunkan ke bumi, ia ditempatkan di atas bambu betung. Sawerigading mempunyai saudara kembar perempuan yang bernama We Tenriabeng. Namun, sejak kecil hingga dewasa mereka dibesarkan secara terpisah, sehingga mereka tidak saling mengenal. Suatu ketika, saat bertemu dengan adik kandungnya itu, Sawerigading jatuh cinta dan berniat untuk melamarnya. Berhasilkah Sawerigading menikahi We Tenriabeng, saudara kandungnya itu? Kisah selengkapnya dapat Anda ikuti dalam cerita Sawerigading berikut ini.


Putri Tandampalik


Luwu adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, yang memiliki luas 3.098,97 km2. Dalam perkembangannya, Kabupaten Luwu dimekarkan menjadi tiga daerah strategis, yaitu Kabupaten Luwu Utara yang kemudian dimekarkan lagi menjadi Kabupaten Luwu Timur dan Kota Palopo. Dahulu, Kabupaten Luwu merupakan pusat kerajaan Bugis tertua yang bernama Kerajaan Luwu, yaitu bermula sebelum abad ke-14 dan berakhir abad ke-16 M. Kerajaan Luwu atau yang biasa juga dieja Luwuq, Luwok, atau Luwu‘, tertera dalam epik I La galigo[1] bersama dua kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, yaitu Kerajaan Wewang Nriwuk dan Tompoktikka. Namun, keberadaan kedua kerajaan yang terakhir disebutkan tidak dapat dipastikan, karena tidak ada bukti-bukti yang nyata mengenai wujud kedua kerajaan tersebut.